Sejarah SMA Muhammadiyah Kedawung

Home   /   Sejarah SMA Muhammadiyah Kedawung

Sejarah SMA Muhammadiyah Kedawung

Histori SMAM

Pada 21 Juli 1954 berkumpul tokoh-tokoh Muhammadiyah, yaitu H. Ahmad Dasoeki, H. Djadjuli, H. Roeslani, Bumita Sastradiredja dan Sutisna Sastradiredja. Mereka melaksanakan rapat di teras atas Gedung Percetakan Lima Jalan Siliwangi Cirebon membicarakan tentang pendirian SMA Muhammadiyah Cirebon. Tanggal 1 Agustus 1954 SMA Muhammadiyah Cirebon mulai beropereasi, awalnya dengan dua jurusan yaitu jurusan B untuk Eksata dan jurusan C untuk Ekonomi. Kepala Sekolahnya dijabat oleh Ketua Panitia Pendirian SMA Muhammadiyah yaitu Bapak Bumita Sastradiredja. Jumlah murid pada saat itu baru berjumlah 80 orang. Pada 18 November 1954 SMA Muhammadiyah diresmikan oleh PP Muhammadiyah, Majelis P dan K Bapak Sarjono dengan mengambil tempat di Jalan Bahagia Cirebon bergabung dengan SMP Muhammadiyah. Tahun 1955-1957 SMA Muhammadiyah mulai dipercaya oleh masyarakat dengan memiliki jumlah murid yang terus bertamba dan pada Ujian Akhir Negara UAN dapat meraih prestasi yang baik dengan lulusnya siswa jurusan B Eksata sebesar 80 dan siswa jurusan C Ekonomi sebesar 94. Pada 1959 SMA Muhammadiyah berupaya membangun gedung sendiri di Jalan Tuparev dengan cara bekerjasama dengan PGA Negeri yang dipimpin oleh kakak dari Bapak Bumita Sastradiredja yaitui Sutisna Sastradiredja dengan mendapatkan bantuan pembangunan gedung lokal 14 buah beserta rumah pamong dan mushola dari Departemen RI yang dirampungkan pada tahun 1960. Namun, SMA Muhammadiyah belajar pada siang hari karena pada pagi harinya di prioritaskan untuk PGAN. Pada tahun 1957-1965 ujian negara yang dilangsungkan dapat berhasil dengan prosentase antara 80 sampai dengan 100 merupakan modal utama berlakunya tata tertib bagi guru dan siswa dengan menerapkan disiplin yang kuat yang akhirnya menumbuhkan sikap kemandirian dari siswa dan alumninya. Pada tahun 1965-1967 terjadi penyusutan jumlah siswa dikarenakan SMA Muhammadiyah hanya memiliki tiga kelas dan juga karena bertambahnya siswa PGAN. Tahun 1967 Bapak Bumita Sastradiredja diangkat menjadi kepala SMA Negeri 2 Cirebon, maka Drs. Enang Ruchiyat, SmHk Guru SMA Negeri 2 Cirebon sebagai pengganti di angkat menjadi kepala SMA Muhammadiyah Cirebon. Beliau menjadi kepala sekolah yang loyal, baik terhadap pemerintah maupun persyarikatan Muhammadiyah, sehinga terdapat penambahan hal-hal baru yang bersifat konstruktif diantaranya: menjadikan Bahasa Arab bidang study yang wajib bagi kelas 1,2 dan 3 dengan lamanya waktu 1 jam pelajaran per minggunya. Seusai EBTA, diselengarakan MPP Masa Penghayatan Pendidikan. Pada kesempatan ini Kepala SMA Muhammadiyah menyampaikan pesan-pesan yang isinya berupaya agar pihak PGAN memberikan tambahan ruang kelas kepada SMA Muhammadiyah. Pada tahun 1975 di angkatlah Drs. Amang Abdurrachman Abdullah diangkat sebagai Kepala SMA Muahammadiyah Cirebon. Selama 13 tahun SMA Muhammadiyah dipimpin oleh Bapak Drs. Amang Abdurrachman Abdullah, SMA Muhammadiyah mengalami banyak perubahan seperti perubahan Kurikulum dan perubahan metode sistem pendidikan dengan program pemerintah masa kini. Pada tahun 1981 terjadi perubahan pakaian seragam yang tadinya berwarna hijau putih menjadi abu-abu putih dan wanita wajib mengenakan kerudung kepala atau jilbab. Tanggal 15 Juni 1976 berdiri STM Muhammadiyah yang menempati gedung SMA pada siang harinya. Pada tanggal 1 Juni 1980 berdirilah SPK Sekolah Perawat Kesehatan yang dilanjutkan dengan berdirinya SMF Sekolah Menengah Farmasi yang semuanya mengambil tempat belajar di SMA Muhammadiyah Cirebon pada sore harinya. Pada 17 Januari 1985, di bawah pimipinan Drs. Amang Abdurahman Abdullah, SMA Muhammadyah semakin berkembang dari sekolah Tipe C menjadi Tipe B yang memiliki 24 kelas dengan jumlah siswa 1200 siswa. Mendapat Akreditasi dari status bersubsidi berubah menjadi disamakan SK Dirjen Pendidikan Dasar Menengah No. 007CKep1985 yang ditandatangani oleh Prof. Darji Darmodiharjo. Pada tahun 1989 Bapak Amang Abdurrahman digantikan oleh pejabat sementara Bapak Fahmy Dahlan mantan kepala PGAN dalam waktu satu tahun dapat mengantarkan SMA Muhammadiyah tetap disamakan SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah NO. 009C11990 ditanda tangani oleh Direktur Sekolah swasta Sardjono Sigit. Pada tahun 1990 Sekolah di pimpin oleh Bapak Tukiyat Hardisucipto, BA Alumnus SMAM tahun 1950. Jumlah kelas berkembang menjadi 31 kelas dan Akreditasi masih tetap disamakan. Pada masa kepemimpinannya didirikan UKGK Usaha Kesejahteraan Guru dan Karyawan. Pada 1 Desember 1998 Sekolah di pimpin oleh Bapak Sugiarto Slamet. BA Alumni SMAM mulai dibangun sarana diantaranya gedung sekolah bertingkat di bagian depan, mengembangkan Mushola yang dapat menampung 800 jama`ah, dan masih dapat mempertahankan status SMA disamakan, serta didirikannya Marching Band Gita Swara. Pada 4 November 2001 sekolah di pimpin oleh Drs. Agus Hidayat aktifis Seni dan budaya Muhammadiyah. Terjadi perubahan Kurikulum KBK yang berorientasi kepada pengalaman belajar siswa. Jenjang Akreditasi Berubah dari disamakan menjadi Terakreditasi “A”. Dilakukan berbagai model pengembangan kecerdasan dengan dibangunnya pusat kecerdasan yang disebut kegiatan KRIDA. Mendapat Penghargaan Sekolah Unggul dari Kepala Dinas Pendidikan Wilayah Jawa Barat. Banyak kejuaraan-kejuaraan yang di peroleh siswa. Setelah kepemimpinan Drs. Agus Hidayat, selama 3 bulan dipimpin oleh Drs. H. Nedi Sunedi. Lalu pada bulan Oktober 2008 barulah SMA Muhammadiyah Kedawung dipimpin oleh Drs. Mohammad Alfan sampai dengan September 2012. Kepemimpinan SMA Muhammadiyah kemudian dipercayakan kepada Drs. Rumiyanto yang menjabat pada 3 Oktober 2012 sampai Pebruari 2017 seiring menurunnya animo masyarakat yang menyekolahkan putranya ke SMA Muhammadiyah Kedawung maka ruang kelas yang kosong di depan dibangun masjid Teja Suar, TokoMu, Apotek Farma dan Lazismu. Sedangkan 2017 sampai sekarang SMA Muhammadiyah dipimpin oleh Arofah Firdaus, S.Pd., M.M. Pada kepemimpinan ini mulai dirintis Muhammadiyah Boarding School (MBS) dan diteruskan kepemimpinan saat ini Bapak Drs. Anas Makruf. M.M. SMA Muhammadiyah Kedawung beralamat di Jl. Tujuh Pahlawan Revolusi No. 70 Kecamatan Kedawung Cirebon. SMA Muhammadiyah terletak di komplek pelajar yang dipadu dengan pertokoan, perkantoran, dan fasilitas lainnya. Tempat seperti ini dinilai cukup strategis karena sekolah ini terletak pada jalur yang ramai kendaraan umum baik dari dalam kota maupun ke luar kota. Lokasi sekolah juga dekat dengan kota Cirebon sehingga mudah dijangkau dari kota dan kabupaten. Sekolah ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk menjalankan pembelajaran. Berikut ialah daftar sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMA Muhammadiyah: Perpustakaan, Laboratorium Fisika, Laboratorium Biologi, Laboratorium Kimia, Laboratorium Komputer, Laboratorium Bahasa, Laboratorium Audio Visual, Sarana Ruang Penunjang Ruang kepala sekolah, Ruang wakil kepala sekolah, Ruang guru, Ruang tata usaha, Ruang Bimbingan Konseling, Ruang IPM OSIS, Ruang Komite Sekolah, Ruang aula serba guna, ruang kesehatan UKS, Ruang ibadah Masjid, Ruang keamanan Pos Satpam, Lapangan upacara, Lapangan Basket, Lapangan Futsal, Lapangan Volley, Lapangan lompat jauh, Ruang tamu, Ruang koperasi, Kantin, Toilet WC putra dan WC putri, Gudang, Ruang Hizbul Wathan, Dapur, Ruang Musik Kolaborasi, Ruang Keterampilan Lukis Kaca, Ruang Keterampilan Menjahit, Media Pembelajaran ICT, In Focus, Laptop, Komputer, VCD Interaktif, Televisi Edukatif, Internet, Website, Jaringan Hotspot. (AF)